Selasa, 09 Agustus 2011

Cerita Hidup Tentang Rasa Syukur

I

Ada sebuah keluarga yang sederhana yang didalamnya ada sebuah kehidupan yang amat pahit. Keluarga itu beranggotakan ayah, ibu, seorang anak gadis dan seorang anak laki-laki (adik). Ayahnya hanya seorang kuli, ibunya hanya seorang buruh cuci, ekonomi mereka hanya pas-pasan. Tetapi gadis itu anak yang solekhah, tutur katanya lembut, penuh sopan santun, dan berbakti kepada orang tua.
Suatu ketika keluarga itu mengalami cobaan yang cukup berat. Ayah mereka sakit keras, mereka tidak mampu untuk berobat, dan untuk membawanya ke rumah sakit. Ibu dan anak gadisnya berusaha mencari pinjaman uang untuk berobat ayahnya tapi tidak berhasil. Setiap malam anak gadisnya selalu bangun untuk berdzikir, sholat dan berdoa mengharap kesembuhan ayahnya.
Suatu hari ada orang yang meminjamkan uang, tetapi entah kapan dapat melunasinya, pak Tresno nama orang itu, Alhamdulillah ayah gadis itu bisa sembuh total. Beberapa hari kemudian pada saat gadis itu pulang mengaji, ada pak Tresno dirumahnya. Ia berbicara dengan ayah dan ibunya. Pak Tresno kesana dengan membawa banyak bingkisan untuk keluarga gadis itu. Entah ada apa sebenarnya? Kemudian pak Tresno berpamitan. Berjalan ia bertemu dengan gadis itu, pak Tresno menyapa tapi gadis itu hanya membalas dengan senyuman. “betapa indahnya ciptaan Allah, menciptakan manusia yang begitu sempurna, Gadis itu tak hanya cantik parasnya tetapi hatinya juga secantik wajahnya”, (terlintas dibenak pak Tresno).
Suatu hari pak Tresno menagih hutangnya , tetapi keluarga itu belum sanggup melunasinya. Walaupun mereka dalam keadaan yang tertekan (terlilit hutang) mereka selalu sabar dan pasrah, terutama gadis itu. Lama kelamaan kesabaran pak Tresno memuncak. Ia terpaksa menyita gubuk gadis itu, kalau gubuk itu tidak bisa disita gadis itu harus mau menjadi istri mudanya.
Dengan keadaan yang terdesak gadis itu pergi mencari pekerjaan kekota. Sudah beberapa hari gadis itu kesana kemari, dari tempat satu ketempat yang lainnya dengan tumpuan kedua kaki dan keiklasan hatinya, tak membuat ia lelah. “ya Allah … tabahkan dan sabarkan hati hamba”.
Sesaat kemudian dia pergi kemasjid untuk sholat magrib kemudian duduk diserambi, ia melihat sisa uangnya tinggal Rp 10.000 ya Allah kuserahkan seluruh hidup ini kepada-Mu ya … Allah. Dalam keadaan jauh dari keluarga, ia tak lupa berdoa untuk keluarganya. Pada saat jalan sejenak ada seorang pengemis yang sangat memprihatinkan serasa hati tak kuasa melihatnya. Kemudian gadis itu melihat uangnya iapun memberikan uang itu pada pengemis tadi. Sungguh mulia gadis itu walaupun jalan keadaan yang sangat kritis.
Dia tak tahu harus kemana, rumah tak punya sanak keluarga tak ada. Malam semakin larut, kegelapan yang menyelimutinya menambah kehangata dalam tidurnya. Pagi pun tiba, siraja siang muncul dengan senyumannya entah kenapa hari itu seakan bahagia dan ceria serasa membawa gadis itu kedalam kedamaiannya walaupun perut terasa keroncongan dan tumbuh merasa lengket tak membuat gadis itu aptah semangat.
YA ALLAH TAKDIR ITU HANYA KEHENDAKMU, JIWA RAGA INI HANYA MILIKMU, KUSERAHKAN SELURUH JIWA DAN RAGAKU KEPADAMU.
Setapak demi setapak ia lewati, hari demi hari ia lalui suatu ketika ia disapa seorang ibu setengah baya. Subkhanallah … ia menawari gadis itu pekerjaan, padahal gadis itu tak mengenal dan tak menyangka. Walaupun hanya pekerjaan rumah tangga gadis itu sangat bersyukur, itu merupakan rizki yang mulia.
YA ALLAH ENGKAU TUNJUKKAN KEBESARANMU
Siapaun orangnya selama mengalami kesusahan (cobaan) janganlah engkau menggerutu sabarlah dan berusahalah dan jangan takabur ataupun riya’ disaat engkau diatas kejayaan syukurlah rizki walaupun sekecil kerikil.

II

Manusia Biasa dan Pilihan Hidup

Tuhan yang Maha baik memberi kita rezeki, tetapi kita harus menjemput untuk mendapatkannya.
Demikian juga Jika kita terus menunggu waktu yang tepat, mungkin kita tidak akan pernah mulai
.
Mulailah sekarang ...   mulailah di mana kita berada sekarang dengan apa adanya.
Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih sesuatu untuk dicintai,
tapi sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya.
Maka tentukanlah pilihanmu untuk masa depanmu !!!. 

Lengkap sudah kebahagiaanku sebagai seorang insan yang penuh cita-cita karena lulus dari perguruan tinggi dan bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meninggi. Walaupun pada intinya, pekerjaan pada saat ini buatku adalah sebatas pengabdian, pencarian jati diri dan penambah pengalaman serta penerapan hidup secara ilmiah layaknya manusia normal.  Ada dua persimpangan yang harus aku pilih untuk untuk melangkah lebih jauh ke depan demi sebuah kebahagiaan dan kedamaian.  Dua pintu ajaib (Doraemon-Red) di persimpangan itu siap membawaku ke bagian lain bumi yakni Jambi atau Lampung, karena keduanya menawarkan sesuatu (pekerjaan, pengalaman dan petualangan) untuk hidupku yang masih penuh tanda tanya.  Dengan segala pertimbangan dan renungan akhirnya aku memilih untuk ke Jambi yang tidak jauh dari kota asalku Lintau. Selamat tinggal Bogor yang telah menjadi kota keduaku termasuk semua yang pernah aku cintai serta cerita indah dan ngalor ngidulnya hidupku di sana.
Jambi yang terletak ditengah-tengah Pulau Sumatera (GIS bo!) dengan tingkat illegal logging yang tinggi (data Citra Satelit) menjadi bagian hidupku sampai sekarang (Welcome to mylife-simple plan).  Jambi yang mempunyai empat taman nasional dan yang terbukti sebagai daerah endemik malaria telah merubah pola fikirku untuk lebih dewasa,  dan tetap survive hidup di alam. Sebagai seorang staf GIS dan Remote Sensing yang bertugas untuk memetakan TNBD dengan permasalahannya, aku juga harus mengenal kehidupan manusia yang berada dalam kawasan dan interaksinya terhadap alam lingkungan.  Masa orientasi aku lewati di dalam Taman Nasional Bukit 12 untuk mengenal secara dekat kehidupan Orang Rimba (ditempatku lebih dikenal dengan orang kubu yang imagenya agak kurang baik) serta masyarakat melayu yang punya kebiasaan berladang diselingi masyarakat pendatang (warga  trans) yang lebih ulet. 
Cerita yang tidak akan pernah lupa dalam hidupku adalah ketika harus berjalan tertatih-tatih dimalam hari yang gelap gulita sementara hujan plus suara binatang malam saling bersahutan, supaya sampai diperkampungan terdekat karena kebetulan kakiku sudah dijalari bisa kaki seribu (sedikit pakai majas metafora-red).  Sedikit banyak ilmu yang kudapat berpengaruh untuk keselamatanku dan sekali lagi jangan panik. Begitu pentingnya teman dalam hidup memang terbukti dikala kita sedang berbahagia dan mengalami kesusahan, itu yang kurasakan malam tersebut.  Sebenarnya hutan belantara merupakan sesuatu yang sudah akrab dengan diriku semenjak kecil, tapi tinggal dan tidur layaknya Orang Rimba adalah hal baru yang unik bagiku.  Mereka begitu bersahabat dan menyatu dengan alam walaupun terkadang mereka terlalu berlebihan untuk mengungkapkan sesuatu yang  menurut pandangan kita adalah biasa.  Alam yang terkadang adalah tempat indah untuk menentramkan hati namun akan menjadi marah apabila dirusak tidak bisa dipisahkan dalam hidup Orang Rimba, mulai dari mereka lahir, tumbuh, berkembang, besar, berumah tangga sampai mereka kembali dikubur disana. 
Indahnya hidup dalam hutan yang jauh dari kebisingan seakan dapat menghilangkan beban hidup yang menghimpit, akan terasa merenduh jiwa tatkala terdengar tawa polos anak-anak rimba yang penuh ceria mengekspresikan diri. Mereka telah mengajarkan kepadaku bagaimana seharusnya bertahan hidup dan pentingnya arti kebersamaan. Gemericik air sungai, nyanyian Burung Murai Batu yang syahdu, derai tawa dan teriakan khas membahana menjadi satu menyapa jiwa ketika aku bercengkrama dengan mereka.  Belajar bersama, makan seadanya serta rokok yang begitu nikmat diterangi nyala api unggun yang mulai redup menjadikan interaksi di malan hari pelengkap cerita hidup bersama Orang Rimba di Taman Nasional Bukit 12. 
Kearifan lokal masyarakat yang membuat hutan tetap lestari mereka terapkan untuk kehidupan sehari-hari walaupun harus menelan ludah menahan lapar.  Hanya sebagian kecil kawasan yang dibuka yang digunakan untuk bercocok tanam dan berkebun atau sebagai pembatas supaya orang dusun tidak terus membuka kebun dan memojokkan kehidupan mereka. Sialang, Manau dan buah serta hasil hutan yang lainnya diambil hanya sebatas untuk mendapatkan hidup yang lebih layak. Tradisi berburu dalam budaya rimba yang hanya menggunakan alat sederhana, sehingga hasil buruan yang diperoleh hanya untuk keperluan sesaat. Tapi sampai kapankah itu akan bertahan? Sementara perubahan yang mengarah Shock Cultural telah menjarah ditengah-tengah mereka dan tuntutan perut ibarat lolongan Srigala kelaparan tiada henti-hentinya menusuk telinga. Akankah mereka masih mempertahankan kawasan Bukit 12 yang menjadi penyangga berbagai kehidupan Makhluk Hidup selain manusia..... entahlah!, konservasi untuk kepentingan bersama itu memang perlu. Semoga para penjegal kayu sadar ada kehidupan lain di dalam kawasan hutan yang akan terusik bila hutan diusik, semoga alam akan memberikan kesadaran dan hukuman yang setimpal buat mereka.
Aku bukanlah individu yang idealis dengan teori hidup yang sudah tertulis mantap di kanvas putih, namun Orang Rimba sedikit banyak telah memberikan coretan warna di kanvas tersebut.  Aku bukan pula manusia yang mengingkari janji-Nya bahwa kerusakan alam dan lingkungan akan terjadi karena ulah tangan manusia sebagai kafilah tetapi tidak berbuat sesuatu untuk memperbaikinya. Aku sadar dan semoga tetap sadar bahwa ilmu itu akan didapat dimana saja terutama dari alam sekitar kita bahkan dari anak kecil sekalipun. Semoga perjalananku ke Bukit 12 menjadi sepenggal cerita dan bagian pencarian ilmu dalam hidupku ..... I wish it.

Kita tak bisa mengubah masa lalu....
tetapi dapat menghancurkan masa kini dengan mengkhawatirkan masa depan

III

Saat seorang bayi mungil lahir, semua orang dewasa di sekitarnya berbahagia. Harapan setinggi - tingginya digantungkan dan doa semulia - mulianya dipanjatkan.
Namun saat kenyataannya sang bayi tumbuh menjadi anak yang terbelakang, semua orang dewasa meratapinya. Mengasihaninya.
Hidupnya akan susah, kata mereka. Kasihan sekali, lanjut mereka.

Terbukti memang, hidup si anak susah. Memijat tetangga, dibayar lima ribu rupiah.
Di tengah perjalanan, dihadang anak tetangga. Uang lima ribu dirampas dan ditukar dengan seribu rupiah.
Anak bodoh, anak bodoh! Anak bodoh tidak perlu dibayar lima ribu. Ejekan terdengar sepanjang jalan.
Kasihan kamu nak, kasihan kamu nak. Ibu di rumah meneteskan air mata melihat hasilnya.
Si anak yang tak mengerti hanya merasa senang dengan apapun yang didapatnya.

Tahun demi tahun berlalu. Ketidakadilan dan ejekan adalah makanan sehari - hari si anak.
Namun ia tak pernah cukup mengerti tentang mengapa semua itu terjadi
dan ia hanya menerima semuanya begitu saja. Mungkin memang  seharusnya begitu pikirnya.

Begitu yang terjadi hingga tubuhnya meninggi dan jakunnya muncul.

Waktunya pun tiba. Pemuda - pemuda berbondong - bondong berjalan menyusuri sungai,
meninggalkan desa dan masa kanak - kanak mereka.

Mengadu nasib di kota, mencari kebahagiaan kata mereka.
Ibu - ibu mengantar dengan air mata. Setengah sedih, setengah haru.
Perpisahan ini bisa jadi selamanya, kata mereka.

Ibunya pun meneteskan air mata. Anaknya semata wayang, takkan pernah ke mana - mana.
Sementara ia yang tak terlalu mengerti, hanya terus menjalankan kebiasaannya memijit. Yang berbeda hanyalah tidak ada lagi yang menghadang dan mengejeknya. Ia pulang dengan hasil utuh dan perasaan yang baru dikenalnya sebagai perasaan senang.

Hidupnya terus susah namun kebaikan dan kemurahan hati manusia terus mengalir. Bayarannya memijit bertambah, dan ia sudah bisa berhitung dan menabung.
Cukup masukkan ke kaleng ini saja setelah dapat uang, begitu kata ibunya
dan itu yang dilakukannya selalu tanpa terlupa.

Hingga ibunya menua dan semua orang hadir membantunya menguburkan sosoknya yg renta.

Apa ini, apa ini? Tanyanya pada yang hadir. Mengapa dada ini terasa sakit dan air keluar dari mataku? Semua yang hadir menangis terisak. Kasihan kau nak, kasihan kau nak.
Ia melanjutkan harinya dan belajar mengenal rasa sepi. Terkadang air masih keluar dari matanya saat terbayang ibu.
Ia yang tak terlalu mengerti mengenai kematian, hanya berpikir mungkin begitu seharusnya, dan hanya menjalaninya.
Hingga perlahan orang - orang yang dikenalnya sejak kecil pun satu persatu menghilang meninggal, dan air tak keluar lagi dari matanya.

Tahun - tahun berlalu, dan ia menjalani harinya seperti biasa.
Sepulangnya, seorang pria yang tak ia kenal, duduk tertunduk di pinggir jalan.
Ia menghampirinya namun tak berhasil bertanya.

Ketika pria itu menengadahkan kepala, ia melihat air keluar dari mata pria itu.
Aku anak durhaka. Ibu matipun aku tak kembali. Kukira kebahagiaan ada di kota sana. Kukira semua itu nyata. Tapi ini yg nyata ternyata. Aku bukan apa - apa, tak punya apa - apa, dan tak punya siapa - siapa.
Pria itu terus meracau dan air semakin banyak keluar dari matanya.

Ia yang tak terlalu mengerti apa yang dibicarakan pria itu, hanya memandanginya diam. Ia tak mengerti apa yang dibicarakannya, tapi ia mengenal air yang keluar dari mata itu.
Dan lihatlah aku sekarang, berbicara dengan si bodoh yang tak mengerti apa - apa! Si bodoh yang tak bisa apa - apa! Teriak pria keras - keras sambil menangis.
Ia mengenal itu! Pria itu adalah anak yang selalu mengatakan hal yang sama dulu. Yang selalu tertawa senang saat menukar uang lima ribu rupiah miliknya menjadi uang seribu rupiah.

Ia yang tak terlalu mengerti bagaimana menjelaskannya, berlari kencang ke arah rumahnya.
Bagus! Sekarang si bodoh pun meninggalkanku! Bodoh bodoh!! Pria itu terus meracau.
Tak berapa lama ia kembali ke hadapan pria itu dengan nafas terengah - engah.
Tukar ini dengan sepuluh ribu rupiah, katanya seraya memberikan uang lima puluh ribu rupiah kepada pria itu.

Kamu bodoh ya! Apa maksudmu! Pria itu marah dan berdiri mencengkeram keras lengannya.
Ampun ampun. Dulu kamu akan senang kalau sudah menukar uangku. Makanya tukar ini! Aku masih punya lagi kalau kamu perlu banyak sampai air itu tidak keluar lagi dari matamu, katanya ketakutan.
Pria itu melepaskan cengkeramannya dan tertegun lama.

Ini tukar. Katanya sambil menyorongkan uang yang dipegangnya.
Mata pria itu berkaca - kaca memandangnya seraya bertanya,
kenapa kau pikir ini bisa membuat air mataku tak turun lagi?

Ia yang tidak terlalu mengerti pertanyaannya itu berusaha mengatakan apa yang ia tahu.
Setiap aku ingat ibu, air mau keluar dari mataku. Aku pergi memijit dan uang itu yang kubawa pulang. Sekarang air tak keluar lagi dari mataku.
Pakailah untukmu juga, ucapnya perlahan pada pria itu.

Pria itu memeluknya erat dan menangis tersedu - sedu.
Ia yang tak terlalu mengerti dengan semua itu hanya berpikir mungkin memang seperti itu seharusnya. Ia pun memeluk pria itu juga.

Hingga akhir, hidupnya memang selalu susah. Tapi air tak pernah keluar lagi dari matanya.
Anak tetangganya itu membantunya hingga akhir hayatnya. Bersama - sama bekerja dan bertetangga. Hingga akhir ia tak pernah menikah. Ia yang tak pernah terlalu memahaminya, menganggap mungkin memang begitu seharusnya.

Sesaat sebelum ia meninggal, sahabatnya itu pernah bertanya padanya,
Kamu tahu apa itu bahagia? Apakah kamu merasa bahagia dengan hidupmu?
Ia yang tak terlalu mengerti pertanyaannya, berusaha menjawab apa yang ia tahu.
Mungkin memang begini seharusnya, jawabnya tersenyum.

----------------------------------------------------------------------------------------------
Sebuah cerita yang diceritakan oleh pembantuku saat aku kecil dulu. Cerita yang aneh pikirku dulu. Terbiasa untuk selalu mencari moral ceritanya, saat itu aku tidak mendapatkannya. Tidak ada pembalasan untuk si anak nakal. Tidak ada keadilan untuk si bodoh. Tidak ada perubahan mendasar dalam kehidupannya. Tidak ada superhero atau sesuatu yang fantastis. Memang ada sedikit kebaikan hati, tapi itu lebih karena kebodohan si bodoh. Dan saat kutanyakan pada pembantuku, jawabannya "Saya ini orang bodoh non. tapi mungkin memang begini seharusnya. Jagain non biar jadi non yang jadi anak pinter."

Dua puluh tahun setelahnya, aku mengingat dan menulis cerita ini lagi, dan mataku berkaca - kaca. Moral ceritanya? Sangat berlimpah.
Ada kepasrahan dan keyakinan di sana. Ada kepolosan. Ada penerimaan hidup. Ada ketabahan. Ada kesederhanaan. Ada kebahagiaan dalam ketidakberadaan dan ketidakmewahan. Ada rasa hangat yang menyusup di relung hati.

Kisah tentang kesusahan dan kemudahan. Kisah tentang hidup yang tak pernah adil. Kisah tentang hidup yang tak selalu harus bahagia pun sempurna.

Kisah tentang hidup manusia.

- Pembantuku itu masih bekerja padaku hingga sekarang, setelah hampir 27 tahun bersama keluargaku. Beliau sudah seperti ibuku dan ibu adik - adikku sendiri :). Teringat saat dulu kutanya apa judul ceritanya, dia bilang: "Yah...cerita hidup orang desa." 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar